Langsung ke konten utama

Studi Literatur dan Program Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Persiapan

1. Studi Literatur

Ilustrasi Literatur
Sumber Gambar : https://bilder.t-online.de/b/78/50/70/64/id_78507064/tid_da/wie-viele-erste-saetze-der-weltliteratur-kennen-sie-.jpg

1.1. Sumber Literatur

Dalam proyek perancangan, arsitek dituntut untuk menguasai sekurang-kurangnya dua hal, yakni bidang yang dirancang dengan cara-cara dan prosedur pentahapan melakukan proyek perancangan. Untuk menguasai kedua persyaratan tersebut, arsitek harus banyak membaca, mengkaji berbagai literatur. Dengan melakukan kaji literatur arsitek akan memperoleh beberapa manfaat antara lain:
  • Arsitek akan mengetahui dengan pasti apakah alternatif-alternatif solusi atau kemungkinan-kemungkinan yang dipilih untuk memecahkan permasalahan dalam proyek perancangannya.
  • Dengan mengadakan kajian literatur arsitek dapat mengetahui masalah-masalah desain.
  • Dengan mengetahui banyak hal yang tercantum di dalam literatur (dan ini merupakan yang terpenting bagi pelaksanaan proyek perancangannya), arsitek akan dapat lancar dalam menyelesaikan pekerjaannya. Arsitek memang diharuskan untuk mengacu pada pengetahuan, dalil, konsep, atau ketentuan yang sudah ada. Penggunaan acuan tersebut harus dilakukan dengan menunjuk langsung pada sumber dimana bahan acuan tersebut diperoleh.
  • Keharusan arsitek mengacu pada pengetahuan, dalil, konsep atau ketentuan yang sudah ada maka kedudukan arsitek sebagai pencipta ruang luar menjadi mantap, kokoh, tegar, karena dalam kegiatannya tersebut ia telah bekerja dengan baik, menggunakan aturan-aturan teknis yang berlaku. Itulah sebabnya arsitek dalam menggunakan acuan pengetahuan, dalil, dan konsep dari gagasan orang lain, harus secara jujur menyebutkan siapa perancangnya  (atau siapa yang mengemukakan), tertera dalam literatur apa, halaman berapa, sumber yang diterbitkan oleh penerbit mana, tahun berapa. Dengan menyebutkan sumber pustaka secara lengkap ini dimaksudkan agar apabila ada arsitek atau orang lain ingin menelusuri lebih jauh tentang rancangan tersebut, dapat dengan mudah melakukannya.

Bagaimana mencatat secara sistematis sumber literatur? Secara sistematis, informasi data yang perlu dicantumkan dalam kartu catatan kerja adalah:
  •  Nama pengarang.
  • Judul buku.
  • Edisi penerbitan.
  • Tempat buku diterbitkan (kota).
  • Nama penerbit.
  • Tahun penerbitan.
  • Nomor buku (nomor ISBN/ ISSN).
  • Lokasi perpustakaan di mana buku ditemukan

Bagaimana cara merangkum sumber literatur? Cara merangkum substansi literatur dapat dilakukan dengan membuat catatat yang terdiri dari:
  • Topik pembahasan.
  • Nomor bahan pustaka sebagai rujukan terhadap daftar bibliografi kerja.
  • Nomor halaman bahan pustaka.
  • Kutipan, ringkasan, atau catatan lain.
  • Data lain yang dianggap relevan (tabel, bagan, grafik, peta, dll).
  • Komentar dan reaksi penulis (sebaiknya ditulis dengan warna berbeda)

1.2. Mengkaji Substansi Literatur

Pentingnya mengidentifikasi literatur terkait aspek pembiayaan, legalitas, peran serta masyarakat, sosial budaya, ekosistem/lingkungan/kota, karakteristik lanskap/lansekap, dikarenakan bahwa:
  • Aspek pembiayaan, diperlukan untuk mendukung pekerjaan perancangan  guna keperluan penyusunan RAB, RKS dan Spesifikasi Teknis.
  • Aspek legalitas, diperlukan untuk mendukung pekerjaan perancangan  guna mengetahui standar, ketentuan, pedoman, dalam pembuatan Detail Enginering Design (DED) dan perhitungan kualitas dan kuantitas ruang.
  • Aspek peran serta masyarakat, diperlukan untuk mendukung pekerjaan perancangan  guna keperluan melakukan tata cara Public Hearing, FGD (Focus Group Discussion), dan Sosialisasi Hasil Rancangan.
  • Aspek sosial budaya, diperlukan untuk mendukung pekerjaan perancangan  guna keperluan penyusunan Program kebutuhan dari pengguna hasil rancangan.
  • Aspek berorientasi ekosistem dan berkelanjutan kota, diperlukan untuk mendukung pekerjaan perancangan  guna keperluan penyusunan pemilihan material.
  • Aspek karakteristik tapak dan lingkungan. diperlukan untuk mendukung pekerjaan perancangan  guna keperluan penyusunan bentuk-bentuk desain berdasarkan kearifan lokal.

Bagaimana cara membandingkan permasalahan perancangan berdasarkan studi literatur? Dapat dilakukan dengan membuat kolom matriks yang berisikan lokasi rancangan, nama perancang, konsep rancangan dan permasalahan rancangannya.

1.3. Merumuskan Hasil Identifikasi Studi Literatur

Manfaat mengidentifikasi substansi hasil studi literatur antara lain:
  • Memahami teori dasar dan konsep yang pernah dikembangkan oleh para arsitek terdahulu.
  • Mengikuti perkembangan rancangan arsitektur dalam lokasi sekitarnya.
  • Memperoleh orientasi atau wawasan perancangan yang lebih luas tentang permasalahan rancangannya.
  • Memanfaatkan informasi/data sekunder

Persyaratan apa yang harus dimiliki arsitek dalam melakukan klasifikasi substansi hasil studi literatur?  Untuk mengkategorikan/mengklasifikasikan substansi hasil studi literatur, arsitek harus :
  • Menguasai cara penggunaan fasilitas utama perpustakaan
    • Kartu katalog perpustakaan
    • Basis data yang terkomputerisasi  (online library search, CD-ROM)
    • Indeks dan abstrak majalah ilmiah
    • Buku referensi/acuan
    • Mikrofilm, mikrochip
    • Jaringan internet
  • Mempunyai informasi yang memadai tentang perpustakaan, pusat dokumentasi, atau jaringan informasi yang relevan.

Prinsip-prinsip yang harus dipahami oleh arsitek yang sesuai dengan topik rancangannya adalah:
  • Pengkajian literatur adalah sebuah proses yang dimulai sesaat setelah kita memperoleh topik rancangan, dan terus berlanjut sepanjang proses rancangan berlangsung.
  • Kajian literatur memiliki dua manfaat yaitu:
    • Menempatkan karya rancangan kita dalam konteks yang terkait dengan teori.
    • Meyakinkan arsitek bahwa rancangannya itu dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai fenomena bersangkutan.

2. Program Kerja

Menyusun Program Kerja
Sumber Foto : Pemerintah Desa Lodtunduh

2.1. Jadwal Kerja, Susunan Personalia Dan Bagan Organisasi Kerja

Jadwal kerja adalah susunan atau program yang telah dirancang dan diberlakukan bagi semua karyawan yang bekerja dan menjadi sebuah peraturan. Pentingnya jadwal kerja, susunan personalia dan bagan organisasi kerja bagi proyek perancangan adalah agar setiap proses perancangan dapat berjalan dengan terkoordinasi, terencana, terpadu dan terintegrasi.

2.2. Identifikasi Jadwal Kerja, Susunan Personalia Dan Bagan Organisasi Kerja

Membuat jadwal kerja dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan menggunakan software perangkat lunak. Yang penting adalah mengetahui lingkup kerja tenaga ahli yang disesuaikan dengan keterlibatan dan peran TA dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan KAK dan bidangnya.

Metoda Perencanaan Kegiatan Kerja dapat dilakukan dengan sistem:
  • Bagan Balok (Bar Chart)
  • Analisis Jaringan Kerja (Network Analysis)
  • Metode lainnya

Mengkoordinasikan Jadwal Kerja  adalah proses memantau, mengkaji dan  mengadakan koreksi dan membimbing agar  kegiatan proyek menuju ke arah sasaran yang  telah ditentukan.

2.3. Merumuskan Program Kerja

Apa yang dimaksud dengan Program Kerja bagi suatu Pekerjaan Perancangan? Program Kerja adalah aktivitas yang menggambarkan bagian mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan berikut petunjuk-petunjuk mengenai cara pelaksanaannya. Aktivitas biasanya menyangkut  juga jangka waktu penyelesaiannya, penggunaan material dan peralatan yang diperlukan, pembagian wewenang dan tanggung jawab serta kejelasan lainnya yang dianggap perlu.

Program Kerja sebenarnya mempunyai ruang lingkup yang lebih besar, bila program ini diterapkan, ia bersifat menyeluruh atau menggarap semua fungsi dari sebuah proyek perancangan, program ini akan meliputi semua elemen, unsur yang harus didaya gunakan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja. Setelah perancang/Tim Leader menetapkan tujuan dari program dan menetapkan tindakan apa yang harus dilakukan, maka tindakan yang harus diambil dapat dirinci sebagai berikut :


a. Sarana dan Prasarana Studio
Kondisi dan kemampuan semua sarana maupun prasarana yang ada, tujuannya untuk mengetahui apakah sarana dan prasarana Studio tersebut masih layak operasi atau tidak, bila tidak layak operasi, maka apa saja perbaikan dan penyempurnaan yang harus dilakukan.


b. Metode Kerja
Suatu metode yang digunakan dan proses yang dijalankan untuk menjalankan program.


c. Kemampuan Sumber Daya Manusia/ Tenaga Ahli dan Tenaga Penunjang
Untuk mengetahui kemampuan sumber daya manusia terhadap metode dan proses kerja oleh Perancang/Arsitek untuk memenuhi sampai di mana kemampuan anggota pengurus dalam melaksanakan pekerjaannya, maka dibutuhkan suatu penyesuaian dengan bidang masing-masing.


d. Semangat Kerja
Seorang Perancang/Arsitek harus mengetahui kondisi atau sifat-sifat bawahan mereka, sehingga seorang Arsitek/Tim Leader memberi semangat kerja pada pengurus tentang kebijakan dan sistem imbalan yang mencakup insentif dan penilaian prestasi kerja.


Bagaimana program kerja dibuat?
Banyak Tool atau program software yang dapat digunakan untuk memonitoring program kerja (work progress).



--------------------------
Materi disadur dari:
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI BIDANG ARSITEKTUR SUB SEKTOR ARSITEKTUR LANSKAP JABATAN KERJA PERANCANG LANSKAP : PELAKSANAAN PEKERJAAN PERSIAPAN