Langsung ke konten utama

Pengumpulan Data dalam Proses Perancangan


Langkah awal dari suatu proses perancangan adalah mengumpulkan data-data yang mendukung pekerjaan tersebut supaya menjadi sistematis dan mempermudah kegiatannya. Pengumpulan data sebagai salah satu bentuk kegiatan dalam proses perancangan tentunya tidak dapat dilakukan tanpa adasar, akan tetapi perlu didasarkan pada sejumlah kaidah atau prinsip. Proses pengumpulan data yang salah akan mempengaruhi kesahihan data yang akan disajikan dalam Laporan Pengumpulan Data. Atas dasar tesebut, maka pelaksanaan pengumpulan data perlu merujuk pada prinsip kegiatan pengumpulan data yang antara lain:
  • Data yang digali atau dikumpulkan harus berdasarkan kondisi objek dari lokasi perancangan, tidak boleh direka-reka atau dikira-kira. Jadi sangat penting untuk terjun langsung terlebih dahulu ke site untuk memastikannya.
  • Alat pengumpul data atau instrument pengumpul data harus relevan dengan tujuan perancangan. Oleh karena itu instrumen pengumpulan data harus melalui analisis uji coba. Pada umumnya analisis uji coba peralatan setidaknya meliputi validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keajegan), misal pemakaian alat untuk mengukur Ph Tanah di lokasi proyek. Dalam bentuk data wawancara kesahihan data lapangan sangat dipengaruhi oleh keterampilan perancang dalam proses pengumpulan data.
  • Pihak-pihak yang dihubungi atau disebut stakeholder dan subjek pengguna hasil rancangan harus relevan dengan apa yang hendak diungkapkan.

SUMBER DATA

Berdasarkan sumbernya, data dapat dikelompokkan menjadi:
  • Data Primer. Adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung dari sumbernya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Teknik yang dapat digunakan antara lain observasi, wawancara, diskusi terfokus, dan kuisioner.
  • Data Sekunder. Adalah data yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang telah ada, misalnya data dari Biro Pusat Statistik (BPS), studi literature baik dari buku, laporan, jurnal, halaman web, dan lain sebagainya.
Pemahaman terhadap dua jenis data tersebut diperlukan sebagai landasan dalam menentukan teknik serta langkah-langkah pengumpulan data penelitian. Pentingnya data primer dan sekunder dalam perancangan adalah untuk :
  • Mengidentifikasi masalah perancangan.
  • Menentukan masalah perancangan menjadi lebih tepat.
  • Mengembangkan pendekatan terhadap masalah perancangan.
  • Memformulasikan desain secara tepat.
  • Melakukan interpretasi data primer secara lebih tepat.
Pemilihan sumber data harus disesuaikan dengan KAK / TOR yang telah disepakati antara pemberi tugas (klien/owner) dengan perancang/arsitek.

METODE SURVEY


Survey merupakan suatu cara mengumpulkan data primer dengan melakukan pengamatan terhadap suatu objek dimana variabelnya adalah jawaban-jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan kepada responden baik secara lisan maupun tertulis. Survey biasanya dilakukan satu kali. Peneliti tidak berusaha untuk mengatur atau menguasai situasi.


Macam-macam metode survey diantaranya:
  • Wawancara langsung
  • Wawancara tidak langsung
  • Mencari informasi data dari koresponden (surat menyurat)
  • Kuisioner (daftar pertanyaan)
  • Pengamatan lapangan
Metode survey yang digunakan harus sesuai dengan tujuan dari survey tersebut. Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan dalam survey, yaitu melalui metode pengisian kuisioner secara langsung, wawancara personal, wawancara melalui telepon, surat, email, atau internet. Dengan adanya pemilihan metode survey, maka dapat diestimasi berapa orang pelaksana survey dan berapa biaya yang dikeluarkan. Hal-hal yang dijadikan pertimbangan dalam pemilihan metode survey adalah ketersediaan sumber daya, sensitivitas pertanyaan, banyaknya waktu yang diperlukan, kompleksitas pertanyaan dan karakteristik lapangan.

Uraian tentang metode survey sebagai berikut:

Wawancara (Interview)



Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada pemberi tugas atau masyarakat atau subjek perancangan. Teknik wawancara dapat dilakukan dengan tatap muka langsung atau melalui sambungan telepon.
Kelebihan dari teknik wawancara langsung tatap muka dibandingkan melalui sambungan telepon adalah memungkinkan untuk mengajukan banyak pertanyaan yang memerlukan waktu yang panjang. Memungkinkan bagi pewawancara untuk memahami kompleksitas masalah dan menjelaskan maksud perancangan kepada pemberi tugas atau masyarakat. Partisipasi masyarakat atau pemberi tugas lebih tinggi.

Kuesioner / Questionnaires

Teknik ini memberikan tugas dan tanngung jawab kepada masyarakat atau pemberi tugas untuk membaca dan menjawab pertanyaan. Kuesioner dapat didistribusikan dalam berbagai cara seperti secara langsung, melalui paket, diletakkan di tempat ramai, pos facsimile, maupun online.

Observasi / Pengamatan Lapangan

Metode observasi adalah proses pencatatan pola perilaku subjek (orang), objek (benda), lingkungan (environment), atau kejadian yang sistematis tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu. Ada beberapa subjek, objek, dan kejadian yang dapat diobservasi oleh perancang seperti perilaku fisik, social, ekonomi, perilaku verbal, perilaku ekspresif, benda fisik atau karakteristik lingkungan.
Teknik observasi oleh perancang dapat dilakukan dengan cara pengamatan langsung atau observasi mekanik melalui alat bantu seperti kamera atau video recorder. Observasi langsung biasanya dilakukan pada subjek atau objek yang sulit diprediksi, sedangkan observasi mekanik biasanya dilakukan untuk pengamatan terhadap perilaku atau kejadian yang bersifat rutin, berulang-ulang, dan telah terprogram sebelumnya.

PERANGKAT PELAKSANAAN SURVEY

Yang dimaksud dengan Perangkat Pelaksanaan Survey antara lain:
  • Rencana Kerja Survey
  • Metodelogi Survey
  • Rencana Anggaran Biaya Survey
Yang harus diperhatikan dalam persiapan perangkat survey antara lain:
  • Maksud, tujuan, sasaran survey
  • Lokasi survey
  • Waktu dan jadwal survey
  • Peralatan survey
  • materi survey
  • Tenaga surveyor
  • Biaya survey

KOORDINASI DENGAN TENAGA SURVEYOR

Koordinasi dimaksudkan agar pelaksanaan survey dapat berjalan dengan baik, sesuai maksud, tujuan, dan sasaran yang dikehendaki. Surveyor wajib melaksanakan materi yang telah ditetapkan oleh tenaga ahli sesuai bidang masing-masing. Koordinasi yang baik dengan tenaga surveyor dapat dilakukan dengan membuat pedoman lingkup tugas dan tanggung jawab yang jelas. Dapat pula dibuatkan bagan organisasi tanggung jawab dan tugas masing-masing tenaga surveyor.