Langsung ke konten utama

Melakukan Analisis Data (2)

1. Analisis Kondisi Eksisting

1.1. Menyiapkan Data Eksisting

Data eksisting tapak dikumpulkan dengan tujuan untuk mengenal tapak, serta menganalisis kelebihan, kekurangan dan potensi yang dimiliki tapak Data eksisting kawasan perancangan digunakan sebagai bahan analisis tapak, yaitu proses evaluasi dan penilaian terhadap data-data tapak untuk memutuskan solusi perancangan sebagai respon dari kondisi tapak (kelebihan, kekurangan, dan potensi yang dimiliki tapak), dalam bentuk pertimbanganpertimbangan rancangan. Unsur-unsur yang terdapat dalam data eksisting kawasan perancangan adalah:
  • lokasi tapak; luas lahan, batas lahan, kondisi dan peruntukan lahan sekitar tapak, karakter lingkungan (gaya, umur, kondisi arsitektur dan karakter sosial lingkungan), sirkulasi kendaraan (tipe jalan, volume lalulintas, tingkat kebisingan), peraturan pembangunan (GSB, tinggi, tipe, dan struktur bangunan yang diijinkan).
  • topografi; derajat kemiringan area-area berbeda pada lahan, potensi erosi, sistem drainase, kontur lahan.
  • drainase; arah drainase air permukaan, potensi genangan air.
  • tanah ; karakter tanah, kedalaman lapisan topsoil, kondisi fisik tanah.
  • vegetasi ; lokasi dan jenis vegetasi, ukuran, bentuk, warna, dan perbedaan bentuk dan karakteristik tiap spesies, potensi penggunaan.
  • iklim mikro ; posisi matahari, arah angin, suhu, curah hujan.
  • eksisting bangunan; tipe dan gaya arsitektural, jenis, warna, dan tekstur material, ukuran, lokasi dan ukuran bukaan, tinggi permukaan lantai, fasilitas pendukung
  • utilitas ; jaringan air, gas, listrik, telepon, kabel, penangkal petir, air bersih, air kotor, dll, serta kelengkapannya seperti kotak meteran, sekring, bak penampungan, bak kontrol, dll
  • view, semua yang terlihat dari setiap sudut tapak
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan data eksisting kawasan perancangan yaitu:
  • melihat tapak dengan pikiran terbuka dan rasa keingintahuan yang besar.
  • pengumpulan data dilakukan terstruktur, dengan mengikuti panduan tertentu mengenai hal-hal yang harus diidentifikasi.
  • melakukan pencatatan setiap informasi dengan akurat dan sistematis.
  • menata hasil data yang diperoleh dengan rapi dalam suatu susunan yang mudah dibaca dan dipahami, sehingga dapat menjadi referensi dalam proses pekerjaan selanjutnya.
Perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses pengumpulan data terdiri dari:
  • gambar denah dan situasi tapak
  • alat ukur (rollmeter, hagameter, theodolit, dll)
  • alat pengarah (kompas, GPS)
  • kamera foto dan/atau video, digunakan untuk:
    • merekam informasi mengenai eksisting tapak seperti tipe dan kondisi vegetasi, view, gaya dan bahan bangunan, dari berbagai sudut pandang
    • mendokumentasikan detil khusus dari tapak yang mungkin terlewatkan pada pengamatan langsung dapat digunakan sebagai media evaluasi data hasil survey
  • alat rekam/tape recorder, digunaka untuk merekam kesan pelaksana survey terkait unsur non fisik tapak/kawasan, seperti kebisingan, suhu, angin, dll.
  • laptop, alat tulis dan buku catatan untuk mencatat informasi-informasi yang ditemukan di lapangan.
Data-data atau informasi-informasi mengenai kawasan perancangan didapatkan dari:
  • pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan
  • instansi-instansi pemerintahan
  • studi pustaka
  • wawancara
  • angket
Yang dimaksud dengan memilih data eksisting kawasan perancangan yang perlu disiapkan adalah memilih data eksisting kawasan yang berhubungan, relevan, atau yang dibutuhkan dalam proses perencanaan dan perancangan untuk disajikan sebagai pedoman pelaksanaan perancangan. Analisis kondisi eksisting dilakukan untuk mengetahui secara langsung dan obyektif situasi dan kondisi tapak perancangan dan elemen-elemen di dalamnya, kondisi lingkungan sekitarnya, serta aspek-aspek yang dapat mempengaruhi tapak dan rancangan.

Contoh analisis kondisi eksisting:

Contoh site protection

Contoh site survey

1.2. Menetapkan Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan harus disesuaikan dengan permasalahan karena setiap metode analisis memiliki karakter dan penggunaan yang berbeda sesuai dengan;
  • Jenis data yang digunakan
  • Situasi yang dihadapi
  • Informasi yang dibutuhkan
  • Pemahaman yang ingin dicapai
Berbagai Metode Analisis dapat dijabarkan antara lain:
  • Metode SWOT, adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi, yaitu;
    • Kekuatan/Potensi (Strength) yang dimiliki wilayah perencanaan, yang selama ini tidak atau belum diolah secara maksimal, atau pun terabaikan keberadaannya.
    • Kelemahan/Permasalahan (Weakness) internal yang selama ini dihadapi dalam kawasan perencanaan.
    • Prospek/Kesempatan (Opportunity) pengembangan yang lebih luas (pada skala perkotaan-perdesaan/regional pada masa yang akan datang.
    • Kendala/Hambatan (Threat) yang dihadapi wilayah perencanaan, terutama yang berasal dari faktor eksternal.
  • Metode garis, digunakan untuk menganalisis vegetasi, yaitu berupa cuplikan berupa garis. Penggunaannya tergantung pada kompleksitas vegetasi. Pada vegetasi hutan, panjang garis yang digunakan biasanya sekitar 5-10 m, sedangkan pada vegetasi yang lebih serhana, cukup 1 m saja. Sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasarkan panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupa garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat. Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar.
  • Metode analisis kuantitatif, dipergunakan pada situasi dimana variabelvariabel dapat diisolasi dan dapat didefinisikan dengan jelas, baik konseptual maupun operasional, variabel dapat dihubungkan melalui satu atau beberapa hipotesis, bila isu yang akan dianalisis diketahui, sederhana, dan arti tidak mendua, pada situasi dimana dibutuhkan informasi faktual, untuk mengetahui secara umum tentang opini, sikap, dan/atau preferensi suatu masyarakat, digunakan pada situasi dengan multiple responden, dan situasi yang membutuhkan generalisasi.
  • Metoda analisis kualitatif, digunakan untuk memahami fenomena sosial, menganalisis masalah dengan fokus pada makna, ide, dan pengalaman, menelaah topik baru, mengurai suatu isu yang kompleks, melakukan pendekatan holistik, dan meneliti kelompok marginal.
  • Metode deskriptif, yaitu memberikan uraian yang deskriptif yang menggambarkan secara jelas, faktual, sistematis dan cermat pokok-pokok persoalan yang dijumpai dan akibat-akibatnya, untuk kemudian mencari jalan keluar pemecahan masalah-masalah yang dijumpai.
Pendekatan analisis tapak harus menyatakan sifat, struktur dan potensi tapak tersebut
  • Persoalan-persoalan tapak seperti; tata guna lahan, topografi/kontur, utilitas, lokasi, ukuran, view, GSB, lalu-lintas, dll.
  • Analisis tapak meliputi persyaratan tapak, analisis kebisingan, analisis pandangan, analisis aksesibilitas, sirkulasi, matahari, angin, vegetasi, dan zoning.
  • Analisis tapak biasanya dilakukan pada peta topografi dengan skala 1 : 1000, yang mencakup tidak hanya kawasan perancangan, namun juga kawasan sekitarnya.
Dalam analisis kawasan diperlukan analisis internal dan analisis eksternal agar potensi dan kendala yang dimiliki kawasan dapat diketahiu secara komprehensif Proses analisis dilakukan untuk mendasari pembuatan konsep pengembangan kawasan yang dapat mengatasi permasalahan eksisting, mengantisipasi kebutuhan masa depan serta mewadahi kepentingan semua pihak yang terlibat.

A. Analisis Eksternal

Analisis eksternal dilakukan dengan tujuan memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kecenderungan perkembangan wilayah di sekitar tapak. Secara umum, analisis eksternal dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisa data-data dasar seperti:
  • Kebijakan pengembangan wilayah ; dalam upaya pengembangan tapak, perlu diketahui sebelumnya kaitan antara peruntukan tapak yang direncanakan dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Analisa kebijakan dilakukan dengan sasaran;
    • Mengetahui kesesuaian fungsional tapak yang direncanakan dalam payung kebijakan tata ruang dan pengembangan wilayah, agar upaya pengembangan tapak secara lebih lanjut memperoleh dukungan dari stakeholder terkait di wilayah sekitar tapak.
    • Memperoleh informasi berbagai kegiatan fungsionals erta arahan pengembangan sistem kota (sistem kegiatan fungsional dan transportasi), agar rencana pengembnagn tapak dalam jangka panjang dapat disesuaikan dengan arahan pengembangan di masa datang.
  • Kondisi fisik dan perkembangan wilayah sekitar tapak ; memahami kondisi dan perkembangan fisik sekitar tapak perlu dilakukan karena berkaitan dengan upaya perancangan tapak, khususnya dalam menentukan sistem transportasi tapak, serta perancangan fisik dalam tapak.

B. Analisis Internal

Analisis internal tapak ditujukan untuk memperoleh informasi kebutuhan pematangan lahan serta perancangan tapak, yang natinya akan terkait pula dengan penyusunan rencana anggaran biaya dalam pembangunan tapak. Dalam analisia internal tapak, dilakukan pengumpulan informasi dan analisa fisik lingkungan menyangkut topografi tapak, iklimatisasi, drainase alami, keberadaan berbagai penanda alam (batuan, danau, dll), maupun jenis tanah dan bebatuan yang menjadi dasar tapak. Selain analisa kondisi fisik pendukung di atas, perlu dilakukan pengukuran internal guna mengetahui luasan tapak sebenarnya, serta pemetaan bentuk fisik tapak guna memperoleh gambaran yang tepat mengenai tapak perencanaan.

1.3. Menganalisis Aspek Perancangan Berdasarkan Kriteria Perancangan

Analisis aspek-aspek perancangan menghasilkan kriteria perancangan berupa adaptasi kondisi wilayah perancangan dan solusi dari isu-isu terkait aspek perancangan. Persiapan yang harus dilaksanakan sebelum melakukan analisis aspek perancangan yaitu;
  • pengumpulan data
  • pengklasifikasian data
  • evaluasi data
  • penentuan metode analisis yang akan digunakan
  • penyusunan data ke dalam bentuk yang dibutuhkan, seperti tabel atau matriks
Tahapan analisis terdiri dari:
  • Tahap pengumpulan data, merupakan kegiatan mengumpulkan data, baik berupa faktor internal, maupun faktor eksternal.
  • Tahap analisis, dimana semua informasi disusun, kemudian dianalisis untuk memperoleh strategi yang sesuai untuk memecahkan masalah atau untuk mengoptimalkan nilai objek analisis.
  • Tahap pengambilan keputusan, mengkaji ulang strategi yang telah dirumuskan dalam analisis, kemudian memutuskan strategi yang paling tepat.yang telah dirumuskan dalam analisis, kemudian memutuskan strategi yang paling tepat.
Hasil yang diperoleh dari tahap analisis dikembangkan sesuai tujuan perencanaan. Hal-hal yang berkaitan dengan potensi dikembangkan untuk mencapai tujuan, sedangkan kendala dicarikan jalan keluarnya. Hasil sintesis adalah alternatif pemecahan masalah dan pemanfaatan potensi dalam bentuk program yang sesuai dengan tujuan perencanan. Dari beberapa alternatif, dipilih yang terbaik dan ideal untuk dijadikan konsep perencanaan.

2. Teknik Pemaparan

2.1. Membuat Paparan Analisis

Tujuan pemaparan hasil analisis adalah untuk dapat menjelaskan kepada atasan dan/atau klien/pemberi tugaspembahasan terhadap aspek-aspek penting dalam perancangan. Bentuk/format yang digunakan dalam memaparkan hasil analisis yaitu berupa:
  • Tabulasi/tabel; yaitu bentuk penyajian paling sederhana untuk menunjukkan informasi yang berupa data numeris atau informasi yang bersifat distribusi, maupun komparasi antar komponen, atau keterkaitan antar komponen dalam data, terutama yang berupa teks. Data distribusi yang disajikan dapat berupa data mentah (raw data) yang mengandung angka-angka absolut, atau dalam bentuk proporsi/presentase/kontribusi suatu komponen terhadap keseluruhan. Bentuk penyajiannya dapat berupa cross-tab atau matriks.
  • Grafik/diagram; untuk menunjukkan pola-pola dalam data (kecenderungan, perbandingan, distribusi, proporsi), menunjukkan keterkaitan unsur, serta menunjukkan proses, pilihan, probabilitas, dsb.
  • Peta analisis; merupakan model 2 dimensi yang menunjukkan karakteristik tata ruang suatu wilayah atau karakteristik sebuah lokasi tertentu dalam bentuk gambar dengan skala tertentu.
Dalam penyajian data, peta biasanya digunakan untuk menampilkan kondisi sekarang/eksisting dan/atau kondisi khusus menurut subjeknya (peta penggunahaan ahan, peta topografi, dll.). Peta analisis biasanya dalam bentuk peta tematik yang merupakan turunan dari peta yang menyajikan data eksisting atau peta komposit yang memadukan beberapa peta degan teknik super-impose.
  • Foto; digunakan untuk mendokumentasikan/merekam kondisi sekarang yang bersifat kualitatif dan menyajikannya sebagai data yang bernilai informasi tinggi karena keakuratannya dalam menampilkan kondisi yang ada.
  • Model 3 dimensi; merupakan optional pada tahap ini, tergantung pada penilaian perancang apakah diperlukan atau tidak. Pada tahap presentasi analisis, model 3 dimensi yang ditampilkan yaitu berupa maket potongan melintang suatu kawasan atau tapak/site sebagai bahan peraga pelengkap peta (model 2 dimensi) untuk lebih menjelaskan kondisi kawasan perancangan.
Paparan analisis harus dibuat menarik dan jelas agar pemberi tugas dapat memahami proses dan tahapan yang dilakukan perancang.

2.2. Mempresentasikan Paparan Hasil Analisis

Cara penyajian materi presentasi dapat dilakukan dengan cara:
  • Konvensional, yaitu dimana hasil analisis dan informasi-informasi visual lainnya di lembaran kertas yang disusun secara sistematis dan terorganisisr berdasarkan urutan materi presentasi yang akan disampaikan,dan ditempelkan pada papan presentasi khusus yang telah disediakan. Cara ini kurang praktis karena membutuhkan ruang yang lebih dan cukup merepotkan dalam proses persiapan berkas-berkas materi presentasi
  • Digital, yaitu dengan bantuan aplikasi teknologi komputer
  • Gabungan cara konvensional dan cara digital. Merupakan cara yang paling umum digunakan, dimana materi presentasi ditampilkan dalam format digital, sedangkan materi-materi yang tidak mungkin digitalisasikan atau dirasa lebih baik bila disajikan secara manual disajikan dalam bentuk fisik.

2.3. Merumuskan Paparan Hasil Analisis

Hasil analisis merupakan pedoman bagi proses perancangan selanjutnya. Oleh karena itu proses perumusan hasil analisis memiliki peranan penting dan harus dilakukan dengan seksama. Perumusan paparan hasil analisis yang mencakup hasil analisis dan masukan dari klien/ pemberi tugas dan masyarakat/publik biasanya dilakukan dengan dengan metode SWOT, yaitu berdasarkan kekuatan, kelemahan, ancaman, dan potensi tapak.
Hasil rumusan berupa initial concept atau konsep awal, dapat berupa teks, atau tabel yang kemudian diwujudkan kedalam sketsa grafis 2 dimensi (conceptual diagram atau conceptual plan)

contoh conceptual diagram/conceptual plan







Sumber:
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI
SEKTOR KONTRUKSI BIDANG ARSITEKTUR
SUB SEKTOR ARSITEKTUR LANSKAP
JABATAN KERJA PERANCANG LANSKAP

"MELAKUKAN ANALISIS"

KODE UNIT KOMPETENSI:

F45PL02.003.01