Langsung ke konten utama

Melakukan Analisis Data

1. Umum


1.1. Pengertian dan Tujuan

Analisis adalah suatu kegiatan untuk memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus, mengetahui isu apa yang sedang terjadi, dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah.
Analisis adalah aktivitas yang memuat sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya dan ditaksir maknanya.
Analisis perancangan adalah proses analisis melalui pendekatan kontekstualisme, dan merupakan suatu proses yang meliputi analisis tapak, analisis aktivitas, analisis pengguna/pelaku, analisis ruang, analisis struktur, analisis bangunan, dan analisis utilitas.
Analisis tapak adalah analisis in site, yaitu analisa terhadap potensi dan persoalan yang dimiliki tapak.

Kegiatan analisis memiliki tujuan, sasaran dan fungsi yang diperoleh dari:
a. Data secara kualitas deskriptif, berupa:
    - Potensi tapak
    - Kendala tapak
    - Amenities (kesenangan, kenikmatan atau fasilitas-fasilitas) tapak
    - Danger signals (tanda bahaya) tapak.
b. Data secara kuantitatif, yang digunakan dalam penentuan batas daya dukung tapak.

Secara umum, tapak perlu dianalisis untuk mencapai 3 tujuan dasar sebagai berikut:
  • Untuk memahami berbagai komponen ekosistem secara terpisah, kemudian kita mengaitkan antara komponen-komponen ekosistem yang terpisah tersebut.
  • Memahami keterkaitan antara komponen yang satu dengan komponen yang lainnya.
  • Untuk menetapkan masalah-masalah dan potensi-potensi yang ada dalam perancangan sehingga nantinya dapat menciptakan solusi yang tepat sesuai kebutuhan perancangan.
Dalam melakukan analisis, yang diharapkan adalah tercapainya/terbentuknya kesimpulan analisis yang akan digunakan sebagai pegangan tindakan selanjutnya.

1.2. Prinsip

Prinsip analisis adalah untuk menyediakan informasi menyeluruh mengenai aset-aset tapak dan hal-hal yang harus dilaksanakan sebelum memulai proses perancangan. Hanya melalui analisis sebuah dapat dikembangkan sebuah konsep yang mampu menanggapi kondisi internal dan ekternal tapak perancangan. Pada prinsipnya, dalam perancangan terdapat 3 macam analisis yang harus dilakukan, yaitu;
  • Analisis kebutuhan; mencakup kebutuhan ruang, hubungan ruang dan aktivitas, prioritas, proses, tujuan, pemeliharaan, akses, perlengkapan, dan lingkungan sekitar ruang.
  • Analisis konteks; mencakup tapak/site, zoning, servis, iklim makro, iklim mikro, bangunan atau tapak yang terhubung secara langsung/tidak langsung dengan site, faktor geologis, akses kendaraan.
  • Analisis bentuk; mencakup zoning, sirkulasi, sruktur, pelingkup/kelingkupan, jenis dan proses konstruksi, kontrol cuaca/iklim, citra.

1.3. Pentingnya

Perencana dan/atau perancang perlu memiliki kemampuan menganalisis agar mampu menemukan persoalan dan meramalkan pengaruh (impact) perencanaannya. Ada empat hal utama yang perlu dinilai dalam analisis, yaitu:
  • Analisis keadaan dasar, yaitu menilai kondisi eksisting pada saat sekarang; termasuk di dalamnya review rencana tata ruang yang ada untuk selanjutnya menentukan tipologi.
  • Analisis kecenderungan perkembangan, yaitu menilai kecenderungan perkembangan lingkungan tapak dari masa-masa sebelumnya hingga sekarang, dan kemungkinan perkembangannya di masa depan.
  • Analisis sistem serta kebutuhan ruang, yaitu menilai hubungan ketergantungan antar sub sistem atau antar fungsi, dan pengaruhnya satu sama lain.
  • Analisis kemampuan pengelolaan pembangunan, yaitu menilai kondisi pendanaan, organisasi pelaksana dan pengawasan pembangunan, personalia, baik pada saat sekarang maupun yang diperlukan di masa depan.

2. Kriteria Rancangan

2.1. Mengidentifikasi Kriteria Teknis Rancangan

Pentingnya menentukan kriteria teknis perancangan:
  1. Terhadap tapak; diperlukan untuk menentukan kesesuain kondisi tapak terhadap fungsi kegiatan tapak yang akan dibangun.
  2. Tata ruang diperlukan untuk pertimbangan gubahan massa dan ruang sesuai dengan fungsi-fungsi kegiatan ruang yang akan direncanakan, menyangkut fungsi, luas, aksesibilitas, struktur, dimensi dari gubahan massa dan ruangnya.
  3. Lingkungan; menyangkut pertimbangan kondisi lingkungan di sekitar tapak, terdiri dari berbagai aspek, antara lain ; aspek fisik, teknis, sosial budaya dan ekonomi.
  4. Hidrologi; menyangkut sistem tata air yang menjadi dukungan bagi rencana penyediaan air bersih dan sistem drainase.
  5. Klimatologi; diperlukan sebagai pertimbangan disain struktur rancang bangun, pemilihan bahan dan material,sistem pencahayaan, dan sirkulasi udara.
  6. Material tanaman; sebagai pertimbangan penentuan jenis tanaman, berkaitan dengan fungsi, struktur, tata letak, jumlah, warna, ketinggian dan diameter maksimal, serta teknik pemeliharaannya
  7. Perkerasan, diperlukan sebagai pertimbangan terhadap kebutuhan luasan, pemilihan bahan.

1. Tapak

Kriteria yang diperhatikan pada pemilihan tapak:
  1. Lokasi, disesuaikan dengan kebutuhan dari segi pandang konstruksi, ekonomi, dan bisnis.
  2. Ukuran, ukuran sesuai dengan kebutuhan rancangan, mampu menampung fasilitas pelaksanaan konstruksi, termasuk kemungkinan pengembangan dan perluasan.
  3. Peruntukan lahan/tata guna lahan, harus sesuai dengan tata ruang kota/wilayah, pembangunan tapak sesuai dengan peruntukkan lahan sesuai dengan ketentuan yang ada (komersial, industri, pemukiman, dll) dan memiliki keterkaitan fungsi dengan sekitarnya.
  4. Pencapaian (aksesibilitas), kemudahan pencapaian ke lokasi tapak, dan permeability, pola pergerakan manusia dan kendaraan dan jalur pencapaian menuju atau melalui kawasan.
  5. Ketampakan (visibilitas), struktur pada tapak harus bisa dilihat dan dikenali dari jalan dan sekitarnya, kecuali memang diinginkan sebaliknya.
  6. Prasarana, meliputi tersedianya prasarana air, listrik, telepon, serta jaringan infrastruktur yang mendukung pelaksanaan operasional proyek dan operasional tapak/bangunan untuk seterusnya.
  7. Karakter fisik lahan, termasuk di dalamnya kondisi tanah dan kondisi topografi, disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi dengan pertimbangan biaya dan keamanan.
  8. Hukum, lahan memiliki status hukum yang jelas, sedang tidak dalam sengketa, dan tidak bermasalah untuk proses pembebasan lahan.
Pendekatan analisis tapak harus menyatakan sifat, struktur dan potensi tapak tersebut. Dalam menemukan sifat dan mengandalkannya untuk mengilhami tata guna tanah yang semestinya, analisis tapak harus mempertimbangkan dan merekam hal-hal yang terkait dengan tata guna tanah, topografi, drainase, vegetasi, iklim, kondisi yang ada serta ciri khusus (Chiara & Koppelman, 1978). Analisis tapak biasanya dilakukan pada peta topografi skala 1:1000. Peta tersebut harus mencakup tidak hanya wilayah tapak, tapi juga kawasan sekitarnya. Uraian analisis terdiri atas permasalahan dan/atau potensi tapak terkait: fisik dasar kawasan, pola peruntukan lahan, prasarana dan sarana lingkungan dan aspek sosial-ekonomi-budaya. 

Analisis tapak memerlukan pertimbangan yang sistematis terhadap 3 konteks utama, yaitu:
  1. Konteks penganalisaan terhadap aktivitas dan fungsi pemakai:
    1. Analisa terhadap pengguna/pemakai dilakukan untuk menentukan program kebutuhan.
    2. Karakteristik manusia pemakai dan pengguna merupakan aspek penting yang akan dianalisis untuk menentukan kebutuhan dan aktivitas ruang.
    3. Pola tingkah laku manusia pemakai dan tingkat sosiologis memberikan pertimbangan terhadap aktifitas kegiatan yang diperlukan, serta fungsi ruang yang diciptakan.
    4. Pola aktifitas dan intensitasnya akan menjadi pertimbangan dalam penentuan pola hubungan ruang.
  2. Konteks penganalisaan terhadap spasial/lingkungan tapak (alamiah dan buatan):
    1. Analisis lingkungan alamiah; dilakukan untuk memahami karakteristik tapak. Lingkungan alamiah adalah elemen-elemen alami dan keadaan tempat sekitar tapak yang penting bagi rancangan tapak.
      1. Analisis faktor klimatologi; meliputi aspek-aspek bagaimana suhu secara regional (macro climate), suhu didalam tapak (micro climate), sudut / arah sinar matahari, curah hujan, kekuatan angin, frekuensi angin, kelembaban, dll. Pengaruh iklim ini akan mempengaruhi rancangan ruang dari segi bentuk, posisi dan keterlindungan terhadap kondisi iklim.
      2. Analisis vegetasi dan makhluk hidup lainnya; dilakukan dengan memperhatikan sifat ekosistem dan kepekaannya terhadap pembangunan, serta potensi bentuk visual alamiah dari jenis vegetasi yang ada. Suatu kumpulan vegetasi akan mempengaruhi kondisi iklim, karakter tapak dan tipe tanah, serta kondisi hidrologi setempat. Pepohonan dapat digunakan untuk menciptakan bidang vertikal , menutup pandangan yang kurang baik, menciptakan privasi dan menciptakan iklim pada ruang ruang yang akan dirancang. Semak (shrubs) dapat dimanfaatkan untuk memperoleh tekstur, warna, komposisi, pengarah sirkulasi, serta sebagai pembatas ruang. Penutup tanah(rerumputan) membentuk bidang alas dan merupakan elemen penting untuk mengurangi erosi tanah permukaan, menentukan kualitas ruang dengan tekstur dan warnanya. 
      3. Analisis topografi; dilakukan untuk mengetahui bentukan dan kemiringan tapak yang akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan perletakan ruang, serta untuk mengetahui kepekaan erosi tapak agar dapat disesuaikan pada tahap perancangan. Topografi mempengaruhi kondisi iklim mikro kawasan, yaitu dimana perbedaan bentukan muka tanah mempengaruhi pergerakan udara dan perolehan sinar matahari pada bagianbagian tapak. Topografi juga mempengaruhi konstruksi, dimana daerah berkontour dengan kemiringan tertentu memerlukan penyelesaian konstruksi tertentu. Kemiringan dibawah 4%  diklasifikasikan sebagai daerah datar dan cocok untuk aktifitas padat (tempat parkir, plaza, dll) . Kemiringan antara 4%-10% untuk kegiatan sedang dan ringan (tempat gazebo, olahraga, dll). Sedangkan kemiringan lebih dari 10% lebih cocok untuk enempatan titik pandang, ruang khusus, pembibitan dll. 
      4. Analisis tanah; yaitu analisis kondisi tanah dalam konteks engineering, dan tanah dalam konteks jenis, sifat, dan unsur tanah itu sendiri. Analisis tanah bertujuan untuk; 1). Mengetahui sifat ekologis tanah sebagai medium untuk menunjang kehidupan tumbuhan, 2). Mengetahui sifat, karakter dan kondisi tanah sebagai salah satu dasar penentuan rancangan (sistem konstruksi, drainase, vegetasi, perkerasan, dll.) dan 3). Untuk mengetahui potensi fisik tapak yang dapat dikembangkan. 
      5. Analisis air; meliputi air permukaan dan air bawah tanah. 
      6. Analisis sensori; yaitu analisa terhadap pandangan dari tapak termasuk posisi titik pandang yang potensial untuk melihat potensi lansekap (apakah pandangan tersebut positif atau negatif, sudut pandangan yang bebas, atau apakah pandangan tersebut dapat berubah-ubah dan kemungkinan agar sudut pandang tersebut tidak berubah). 
      7. Analisis sumber kebisingan; dilakukan untuk mengetahui informasi mengenai lokasi/arah datangnya kebisingan, sumber kebisingan, tingkat kebisingan, pergerakannya, dll. Analisis visual; dilakukan untuk mengetahui area-area yang berpotensi mendapatkan visual yang menarik (good view) bagi pengunjung untuk diekpos dan dikembangkan,serta area-area yang sebaiknya pandangan pengujung dibatasi (bad view) serta pemikiran akan pemanfaatan “borrowed scenery” dari lingkungan sekitar tapak. 
      8. Analisis aksesibilitas dan sirkulasi; untuk mengetahui akses yang mudah dijangkau di tapak dan kondisi fisik jalur sirkulasi yang ada.
    2. Analisis lingkungan binaan (buatan); dilakukan untuk memahami konsep masterplan (evaluasi masterplan). Lingkungan binaan adalah semua data dari elemen buatan manusia yang ada didalam tapak Evaluasi masterplan dilakukan bukan untuk menilai baik/ buruknya rencana yang ada, melainkan untuk mengetahui, memahami dan mengenal konsep ruang , konsep sirkulasi, dll pada masterplan yang dikerjakan oleh site planner. Dengan mengetahui konsep masterplan tersebut, maka pemikiran terhadap program rancangan lansekap yang dibuat akan menyesuaikan dengan rencana tersebut. Hal-hal yang perlu dianalisa untuk dipahami dari lingkungan binaan antara lain;
      1. Batas tapak; termasuk di dalamnya pengenalan batasan tapak dalam masterplan, pencapaian dari luar tapak, mengenali lingkungan sekitar tapak serta fungsinya, dan hubungan tapak dengan kegiatan lingkungan sekitarnya.
      2. Konsep ruang, zoning, dan tata letak bangunan; dimana zoning untuk public space, private space dan service space, fungsi yang ada, pola dan sistem tata letak bangunan, orientasi bangunan, dimana aktifitas utama ruang luar yang ingin dicapai oleh arsitek, dan kearah mana hubungan antara massa bangunan dalam hal membentuk suatu ruang diluar bangunan.
      3. Pola sirkulasi; bagaimana konsep dari sirkulasi pejalan kaki, konsep sirkulasi kendaraan bermotor, sistem yang diterapkan (melalui pendekatan pola “direct circulation”, atau “irrengular system”), mengapa pola sirkulasi ini diterapkan pada tapak tersebut, hirarkhi/urut-urutan fungsi sirkulasi, hubungan antara sirkulasi dengan bangunan ataupun dengan aktifitas kegiatan di ruang luarnya, letak parkir, luasannya dan pola parkir yang diterapkan.
      4. Bentuk fisik bangunan; bentuk arsitektural, style / gaya dan ketinggian bangunan diamati dan diperhatikan dengan cermat.
      5. Pola drainase; pola drainage yang dipelajari adalah sistem saluran pembuangan muka tanah ataupun didalam tanah yang berhubungan dengan limbah yang berasal dari kegiatan didalam bangunan. letak saluran pembuangan utama, arah aliran air & lebar saluran tersebut.
      6. Sarana utilitas; mengetahui perletakkan sarana utilitas misalkan lampu penerangan ruang luar, terminal pembuangan limbah sampah, dan letak sumber air pompa.
  3. Konteks penganalisaan terhadap perilaku (pola aktifitas sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan kawasan sekitar tapak, termasuk juga kebijaksanaan umum yang mempengaruhi pengembangan tapak).
Penyajian informasi tentang analisis tapak ini dapat berupa gambar “peta” yang berisikan faktor yang di analisis ataupun dalam bentuk “matrix diagram” ataupun dalam bentuk “bubble diagram”.

2. Fungsi

Analisis fungsi terkait dengan kegiatan/aktivitas, pelaku, dan kebutuhan ruang. Data kebutuhan aktivitas mencakup:
  • Pelaku aktivitas; jumlah, jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan.
  • Jenis aktivitas
  • Skala aktivitas
  • Frekuensi pelaksanaan aktivitas
Dalam perancangan lansekap, data kebutuhan aktivitas digunakan sebagai pertimbangan dan pedoman penentuan kebutuhan ruang, pembuatan zona dan sirkulasi. Fungsional perancangan terkait dengan peruntukkan fungsi tapak itu sendiri (perkantoran, perumahan, industri, rekreasi, dll.), dimana masing-masing fungsi memiliki kriteria tersendiri.

3. Ruang

Penataan ruang luar harus mampu mewadahi semua kegiatan dengan baik, memperhatikan kontinuitas ruang dan kegiatan yang mendukung pola massa bangunan, sehingga tercipta kesatuan.
Chiara dan Koppelman (1994) menyatakan bahwa sifat khas keruangan lanskap pada umumnya tergantung pada tiga hal:
  1. Besaran ruang. Besaran ruang penting untuk menentukan dampak visual secara menyeluruh, demikian juga potensinya untuk menyerap fungsi tertentu. Besaran dapat dievaluasi menurut luas dan hubungan antara luas tersebut dengan semua ruang lainnya pada tapak tersebut.
  2. Tingkat ketertutupan (degree of enclosure) visual. Tingkat ketertutupan visual ruang merupakan faktor spasial penting, terutama untuk menempatkan fungsi yang sangat dipengaruhi oleh kebutuhan hubungan sirkulasi (jalan atau jalan setapak), pemandangan yang bagus, atau vista (pemandangan). Tingkat ketertutupan merupakan pertimbangan perencanaan yang penting, tidak hanya dalam percapaian keruangan, tetapi juga dalam bentuk visualnya.
  3. Sifat visual. Seseorang harus mengadakan penafsiran suatu ruang secara cermat menurut citra visual yang melekat untuk menentukan sifat khas dari ruang. Kualitas visual yang melekat pada tapak sangat mempengaruhi jenis kegiatan yang terjadi. Ruang padat yang disekat rapat akan menghasilkan nuansa yang sangat berbeda dengan ruangan yang terbuka, dan landai. Apabila suatu rencana akhir akan berhasil, maka kegiatan-kegiatan yang direncanakan untuk berbagai tapak hendaknya mencerminkan kualitas yang melekat pada tapak tersebut.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penataan ruang luar diantaranya:
  1. Pencapaian menuju bangunan. Kriteria yang harus dipertimbangkan:
    1. Kemudahan, dapat diciptakan dengan meletakkan pintu masuk (main entrance) pada tempat yang mudah dilihat dan mudah diakses oleh setiap orang, sesuai dengan arah arus pergerakan kendaraan pada kawasan.
    2. Keamanan, dengan memperhatikan posisi arah masuk ke site terhadap jarak ke persimpangan jalan dan tikungan yang ada di sekitar site (min 25 m dari tikungan)
    3. Kenyamanan, arah masuk ke site dibuat cukup luas sehingga memudahkan pergerakan, dan pengaturan pola pergerakan di dalam site dibuat sedemikian rupa agar sirkulasi masuk dan keluar site tidak saling mengganggu satu sama lain.
    4. Pola pencapaian menuju site dapat dilakukan dengan:
      1. Pencapaian secara langsung, yaitu pencapaian yang mengarah langsung ke suatu tempat masuk, melalui sebuah jalan yang segaris dengan sumbu bangunan keunggulan: kejelasan orientasi/arah pergerakan, waktu pencapaian lebih cepat, jalur masuk ke dalam bangunan lebih tegas dan jelas kelemahan: membutuhkan perencanaan unsure-unsur/elemen-elemen yang lebih matang agar dapat memberikan kesan yang dinamis, tidak biasa saja.
      2. Pencapaian tersamar, dilakukan dengan mengubah arah pada jalur beberapa kali sehingga menghambat dan memperpanjang pencapaian ke bangunan keunggulan: memberikan efek perspektif yang sedikit lebih dramatis pada suatu bentuk bangunan kelemahan: pencapaian relative lebih lama, kurangnya kejelasan orientasi/arah tujuan
      3. Pencapaian dengan berputar, sebuah jalan berputar memperpanjang urutan pencapaian dan mempertegas bentuk 3 dimensi suatu bangunan sewaktu bergerak mengelilingi tepi bangunan keunggulan: kesan bentuk 3 dimensional bangunan dapat dinikamti secara jelas, elemen penunjang dapat diidentifikasi oleh pengunjung kelemahan: pencapaian menuju bangunan menjadi lebih lama, dan dibutuhkan area yang cukup luas untuk menampung sirkulasi berputar pada kawasan.
  2. Sirkulasi. Pola sirkulasi sangat mempengaruhi keteraturan lalu-lintas dan kenyamanan menuju site. Penataan sirkulasi disesuaikan dengan pola sirkulasi di luar site untuk mempermudah akses ke dalam dan ke luar site, menunjang aktivitas sirkulasi di dalam site.
    1. Prinsip perancangan sirkulasi:
      1. Kualitas. Suatu sistem sirkulasi akan ramai digunakan orang jika sistem tersebut terbukti aman, fungsional, efisien, dan menunjukkan arah tujuan dengan  jelas. Oleh karena itu suatu sistem sirkulasi setidaknya harus memenuhi standar dan dirancang dengan banyak petimbangan yang matang. Halhal yang dipertimbangkan adalah: tempat asal dan tujuan yang dihubungkan, sistem-sistem di sekitarnya, topografi, iklim, waktu tempuh, kepadatan pengguna, infrastruktur pendukung, dan detail perancangan sistem sirkulasi tersebut.
      2. Estetika. Sebuah jalan dapat dibuat lebih menarik dan tidak monoton dengan pengaturan rute, pengaturan pencapaian bangunan, serta pengaturan pemandangan dan vista. Selain itu, sebagai bagian dari ruang eksterior, sistem sirkulasi juga seharusnya dirancang dengan prinsip-prinsip estetika. Misalnya warna, keseimbangan, bentuk, garis, tekstur, irama, bergabung untuk membentuk keindahan pada sistem sirkulasi yang dirancang.
      3. Kecepatan. Suatu sistem sirkulasi harus dirancang untuk beroperasi dengan kecepatan yang efisien, terutama pada jalan yang ramai dipergunakan. Faktor yang harus dipertimbangkan dalam hal ini adalah letak tikungantikungan, percabangan, kecuraman, tipe perkerasan yang dipakai, serta lokasi titik-titik pusat yang dilalui jalur tersebut.
    2. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perancangannya:
      1. Pembentukan pola sirkulasi masuk dan keluar site.
      2. Pemisahan jalur sirkulasi pejalan kaki dan kendaraan dengan pertimbangan kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki dan kemudahan kendaraan
      3. Sirkulasi kendaraan hanya sampai area parkir.
  3. Parkir. Pola parkir harus mempertimbangkan kenyamanan untuk memarkir dan mengeluarkan kendaraan, serta keamanan selama kendaraan ditinggalkan.
    1. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perancangan parkir:
      1. Jarak berjalan yang pantas; area parkir sebaiknya terhubung secara langsung dengan bangunan, atau berjarak tidak lebih dari 30 m dari bangunan.
      2. Luasan yang memadai sesuai kebutuhan perparkiran tapak yang sudah diperhitungkan.
      3. Ruang yang memadai untuk setiap kendaraan untuk pergerakan selama proses memarkir kendaraan dan keluar, sesuai standar yang berlaku.
      4. Pola pengaturan sirkulasi kendaraan di area parkir;
      5. Efisiensi penggunaan lahan.
      6. Pengelompokkan parkir menurut pelaku dan jenis kendaraan (parkir karyawan dan pengunjung, parkir roda 2 dan roda 4).
      7. Untuk parkir outdoor, terdapat vegetasi peneduh yang cukup.
      8. Terdapat penerangan yang memadai.
      9. Terdapat marka atau petunjuk yang dapat memandu dan memberikan kemudahan bagi pengguna.
      10. Jenis perkerasan yang digunakan sesuai dengan lokasi area parkir (outdoor atau indoor) dengan memperhatikan aspek, keamanan dan kenyamanan selama parkir dan berkendara.
      11. Pengawasan visual; dilakukan secara visual langsung oleh petugas parkir pada skala kecil, sedangkan pada parkir skala besar pengawasan dilakukan secara langsung dengan dibantu kamera pengawas.
    2. Metode yang digunakan untuk menentukan kebutuhan parkir:
      1. Berdasarkan kepemilikan kendaraan; mengasumsikan adanya hubungan antara luas lahan parkir dengan jumlah kendaraan yang tercatat pada kota/kawasan bersangkutan, dimana peningkatan jumlah penduduk, kepemilikan kendaraan, dan kebutuhan lahan parkir berbanding lurus.
      2. Berdasarkan luas lantai bangunan; mengasumsikan bahwa kebutuhan lahan parkir sangat terkait dengan jumlah kegiatan pada lokasi, yang dinyatakan dalam besaran luas lantai bangunan dimana kegiatan tersebut dilakukan (mis; pusat perbelanjaan, perkantoran, dll).
      3. Berdasarkan selisih terbesar antara kendaraan masuk dan kendaraan keluar; kebutuhan lahan parkir ditentukan berdasarkan akumulasi terbesar pada suatu selang waktu pengamatan.
  4. Tata hijau dan lansekap. Unsur-unsur yang mempengaruhi penataan lansekap adalah:
    1. Material lunak (soft material); yang meliputi rerumputan, semak, dan pohon. Unsur ini digunakan sebagai elemen penutup tanah, elemen pengarah, penenduh, atau penghalang, baik penghalang angin, panas, maupun penghalang bunyi. Karakteristik tanaman:
      1. Umum:
        1. tahan terhadap hama penyakit,
        2. berumur panjang,
        3. mudah ditanam,
        4. mudah tumbuh,
        5. mudah pemeliharaannya,
        6. memiliki toleransi iklim yang baik,
        7. memiliki bentuk yang indah.
      2. Khusus: Karaterteristik khusus dalam memilih tanaman yang digunakan sangat bergantung pada lokasi dan fungsi penggunaannya. Untuk menentukan tanaman yang digunakan untuk fungsi dan tempat tertentu perancang perlu memiliki pengetahuan mengenai karakteristik tanaman (bentuk, tajuk, warna, tinggi dan lebar tanaman) dan habitus tanaman (pola pertumbuhan, sistem perakaran, tempat tumbuh, pola pemeliharaan).
    2. Material keras (hard material); meliputi elemen penutup jalan, plaza, bangunan, gazebo, kolam, pagar, dan street furniture. Fungsi elemen keras adalah sebagai pengarah, jalur sirkulasi, elemen estetis, dan posat orientasi. Perancangan perkerasan pada tapak lansekap dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal berikut;
      1. Lokasi perkerasan mempengaruhi pemilihan jenis, pola, dan warna material yang digunakan, serta kemampuan material untuk meyerap air.  Contoh: perkerasan yang berada pada lokasi strategis seperti plaza, dirancang dengan menggunakan material dengan pola, tekstur, dan warna yang menarik secara estetis.
      2. Peruntukkan/fungsi perkerasan, berkaitan dengan perhitungan beban yang akan ditampung area perkerasan, sehingga mempengaruhi pemilihan jenis, warna, ukuran dan tipe material serta konstruksinya. Contoh: area parkir, memiliki luasan yang cukup besar, beban lalu lintas ringan, serta diharapkan dapat menambah estetika banguann dan lansekap, material yang dipilih biasanya berupa material berpori, dengan pemasangan yang membentuk corak yang menarik.
      3. Kondisi tanah, terutama tingkat kepadatan dan kemampuan menyerap air, yang akan sangat berpengaruh dalam pemilihan material dan konstruksi atau pemasangan perkerasan. Contoh: pada tanah ekspansif, yaitu tanah dengan kandungan lempung yang mudah mengalami kembang susut akibat perubahan kadar air, perkerasan yang dipilih adalah perkerasan yang padat dan stabil seperti asphalt atau perkerasan yang dipasang dengan menggunakan semen.
      4. Luasan perkerasan, mempengaruhi penentuan jenis perkerasan yang digunakan. Contoh: penggunaan perkerasan kedap air pada area yang cukup luas dapat menyebabkan peningkatan volume air permukaan.
      5. Spesifikasi bahan, untuk menentukan kesesuaiannya dengan lokasi dan fungsi penggunaannya, serta untuk mengetahui cara pemeliharaan dan menentukan nilai ekonomisnya.
      6. Jenis perkerasan, kedap air atau tidak kedap air, yang berguna bagi pertimbangan perencanaan drainase tapak.

4. Bentuk

Analisis bentuk berkaitan dengan bentuk-bentuk yang digunakan dalam perancangan, baik berupa bentuk ruang, bentuk bangunan, ataupun bentuk tapak itu sendiri. Secara psikologis dan secara naluriah manusia akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk memudahkan pemahaman.
Dalam setiap komposisi bentuk, kita cenderung mengurangi subyek utama dalam area pandangan kita ke bentuk-bentuk yang paling sederhana dan teratur. Makin sederhana dan teratur suatu wujud, semakin mudah untuk diterima dan dimengerti. Bentuk-bentuk geometri yang paling penting adalah wujud-wujud dasar berupa lingkaran, segitiga dan bujur sangkar. Pengembangan penggunaan bentuk dalam prakteknya dapat menciptakan:
  • Bentuk beraturan adalah bentuk-bentuk yang berhubungan satu sama lain dan tersusun secara rapi dan konsisten. Pada umumnya bentuk-bentuk tersebut bersifat stabil dan simetris terhadap satu sumbu atau lebih, dan dapat mempertahankan keteraturannya meskipun dimensi-dimensinya diubah, ataupun unsur-unsurnya ditambah atau dikurangi.
  • Bentuk tak beraturan adalah bentuk yang bagian-bagiannya tidak serupa dan hubungan antar bagiannya tidak konsisten. Pada umumnya bentuk ini tidak simetris dan lebih dinamis dibandingkan bentuk beraturan. Bentuk tak beraturan bisa berasal dari bentuk beraturan yang dikurangi oleh suatu bentuk tak beraturan ataupun hasil dari komposisi tak beraturan dari bentuk-bentuk beraturan.
Ciri-ciri Visual Bentuk:
  • Wujud, memperlihatkan sisi luar dari karakteristik atau konfigurasi permukaan suatu bentuk tertentu yang merupakan hal utama untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan bentuk. Persepsi terhadap wujud sangat tergantung pada tingkat ketajaman visual yang terlihat sepanjang kontur yang memisahkan suatu bentuk dengan daerah sekitarnya.
  • Dimensi, dimensi fisik berupa panjang, lebar dan tebal, yang menentukan proporsi dari suatu bentuk. Sedangkan skalanya ditentuka oleh ukuran relatif terhadap bentuk-bentuk lain dalam konteksnya.
  • Warna, merupakan sebuah fenomena pencahayaan dan persepsi visual yang menjelaskan persepsi individu dalam corak, intensitas dan nada. Warna adalah atribut yang paling menyolok membedakan suatu bentuk dari lingkungannya dan juga mempengaruhi bobot visual suatu bentuk.
  • Tekstur, adalah kualitas yang dapat diraba dan dapat dilihat yang diberikan permukaan oleh ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian benda, yang menentukan sampai di mana permukaan suatu bentuk memantulkan atau menyerap cahaya.

5. Drainase

Drainase yang dimaksud lebih pada sistem drainase yang terletak di permukaan tanah, baik yang terbentuk secara alami dan buatan untuk mengalirkan air permukaan (air hujan dan limpasan). Pada prinsipnya, perancangan drainase adalah untuk mengendalikan air hujan agar meresap ke dalam tanah dan tidak mengalir sebagai aliran permukaan. Tujuan perancangan drainase adalah untuk mengurangi /menghilangkan genangan-genangan air yang dapat mengganggu pelaksanaan kegiatan, dan untuk memperpanjang umur ekonomis sarana-sarana fisik seperti jalan dan perkerasan.
Limpasan permukaan dipengaruhi oleh:
  • Unsur meterologi; jenis prepitasi, intensitas curah hujan, lamanya hujan, distribusi hujan pada daerah pengaliran, kelembaban tanah, temperatur, dll.
  • Daerah pengaliran; kondisi tanah, luas daerah pengaliran, kondisi topografi, jenis tanah, kondisi permukaan tanah.
Dalam merencanakan dan merancang saluran drainase, perlu dipertimbangkan aspek-aspek antara lain:
  • aspek hidrologi; perhitungan debit rencana, penentuan debit disain dan tinggi jagaan, penetapan karakteristik daerah aliran
  • aspek hidrolik; kecepatan maksimum aliran, bentuk penampang saluran
  • aspek struktur; jenis dan mutu bahan, kekuatan dan kestabilan bangunan
  • aspek biaya
  • aspek pemeliharaan

6. Utilitas

Utilitas terdiri dari jaringan air bersih, jaringan air kotor, sistem pembuangan sampah, jaringan listrik, telepon Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan-perancangan sistem utilitas, yaitu:
  • Penyesuaian sistem utilitas dengan tatanan/susunan ruang dan perletakan alat yang dipakai
  • Sistem pendistribusian dan perletakan utilitas sedapat mungkin memberikan kemudahan bagi perawatan/pemeliharaan dan perbaikan tanpa mengganggu aktivitas lain pada tapak.
  • Penyeuaian perencanaan sistim utilitas tapak dengan sistem utilitas lingkungan kawasan.

2.2. Mengidentifikasi Kriteria Non Teknis Rancangan

Perencanaan lansekap bersifat holistis, sehingga perencanaan dan perancangannya harus mengintegrasikan aspek sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan estetika untuk menghasilkan sebuah lansekap yang “utuh”.
  1. Aspek Sosial Budaya. Aspek ini terkait dengan manusia, latar belakang budaya, tatanan sosial, nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat, aktivitas keseharian dan kebiasaan masyarakat, demografi dan jumlah penduduk, perilaku dan keinginan masyarakat terhadap tapak, serta sejarah kawasan.
  2. Aspek Ekonomi. Aspek ini terkait dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, kegiatan ekonomi masyarakat, pertumbuhan ekonomi masyarakat, potensi ekonomi dan perkembangan ekonomi kawasan.
  3. Aspek Lingkungan. Aspek ini terkait dengan keadaan lingkungan sekitar tapak meliputi;
    1. Peruntukan lahan (land use),
    2. Aturan-aturan setempat yang terkait atau mempengaruhi tapak secara langsung atau tidak langsung
    3. Lingkungan alam; topografi, vegetasi, tanah, view dan vista, klimatologi, hidrologi
    4. Lingkungan terbangun; ketinggian bangunan, kepadatan dan tipe bangunan, peruntukan/ijin bangunan.
    5. Utilitas kawasan: sanitasi, drainase, air bersih, listrik
    6. Sirkulasi kawasan; kelas jalan, kepadatan jalan, jalur pejalan kaki dan kendaraan, jenis angkutan, dll.
    7. Area historis, bangunan dan landmark kawasan, situs arkeologis
    8. Prasarana dan sarana lingkungan; fasilitas umum, fasilitas sosial, dll
    9. Perkembangan kawasan
  4. Aspek Estetika.
    1. Unsur-unsur visual perancangan tapak:
      1. Titik : Sebuah titik merupakan sebuah tempat di dalam ruang yang tidak memiliki dimensi.
      2. Garis : Saat sebuah titik digerakkan atau dipindahkan, hasilnya adalah sebuah garis satu dimensi.
      3. Bidang : Saat sebuah garis dipindahkan, hasilnya berupa bidang yang tidak memiliki ketebalan, sehingga konfigurasinya hanya berupa bentuk dua dimensi.
      4. Ruang : Ketika bidang dipindahkan, akan menghasilkan bentuk tiga dimensi yang dapat berupa benda padat atau berupa void yang dikelilingi bidang-bidang.
      5.  Pergerakan : Saat bentuk tiga dimensi dipindahkan, tercipta pergerakan yang memiliki dimensi keempat, yaitu waktu.
      6. Warna : Setiap permukaan memiliki warna tertentu yang memiliki tanggapan yang berbeda terhadap cahaya dengan panjang gelombang berbeda.
      7. Tekstur : Karakteristik sebuah permukaan merupakan pola yang tercipta dari pengulangan titik atau garis yang terlihat dan/atau terasa halus atau kasar.
    2. Unsur-unsur non visual:
      1. Suara : Suara memiliki pengaruh besar pada cara mengalami ruang.
      2. Aroma : Dalam disain lansekap, aroma bunga-bunga dan dedaunan bukan hanya menstimulasi indra penciuman, namun juga membangkitkan rasa yang menyenangkan.
      3. Sentuhan : Melalui sentuhan kita dapat merasakan berbagai sensasi, panas, dingin, kasar, halus, tajam, tumpul, dan lain sebagainya.

2.3. Mengidentifikasi Peraturan Terkait Kriteria Perancangan

Peraturan terkait berfungsi sebagai pedoman dan dasar hukum yang mengatur persyaratan, tata laksana, pengawasan dan pengendalian proses perancangan, pelaksanaan, dan pemeliharaan lansekap:
  • Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan ruang.
  • Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 06/PRT/M/2007 Tanggal 16 Maret 2007, Tentang Pedoman umum Rencana tata bangunan Dan lingkungan
  • UU No.18 Tahun 1999, tentang Jasa Konstruksi
  • Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
  • PP No.29 tahun 2000, tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
  • SNI bidang Konstruksi dan Bangunan
  • Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.24/PRT/M/2008, tanggal 30 Desember 2008, tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan bangunan Gedung\

2.4. Merumuskan Kriteria Rancangan Lanskap/Lansekap

Kriteria rancangan lansekap berfungsi sebagai pedoman dan memberikan standar yang ingin dicapai dalam perancangan lansekap. Perumusan kriteria rancangan lansekap dilakukan berdasarkan hasil analisis, dan karakteristik rancangan setiap tapak bersifat unik satu sama lain karena sangat bergantung pada lokasi, kondisi dan peruntukan tapak itu sendiri. Pada perancangan arsitektural, biasanya rumusan kriteria perancangan dibuat berupa tabulasi sehingga memudahkan proses evaluasi, revisi, serta supervisi penerapannya dalam rancangan.

sumber:

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI
SEKTOR KONTRUKSI BIDANG ARSITEKTUR
SUB SEKTOR ARSITEKTUR LANSKAP
JABATAN KERJA PERANCANG LANSKAP

"MELAKUKAN ANALISIS"

KODE UNIT KOMPETENSI:

F45PL02.003.01